Sabtu, 25 Juni 2011

Besaran dan Vektor






















Dimensi

Semua besaran turunan (besaran terjabar) yang terdapat di dalam mekanika dapat dinyatakan dengan tiga besaran pokok yaitu: panjang, massa, dan waktu.

Sebagai contoh:

Besar kecepatan = jarak/waktu

Jadi mengandung besaran panjang dan besaran waktu.

Besar momentum = massa . kecepatan

Jadi mengandung besaran massa, besaran panjang, dan besaran waktu.

Apakah dimensi itu?

Dimensi adalah: Cara besaran itu disusun dari besaran-besaran pokok.


Sebagai contoh:

Dimensi panjang dilambangkan dengan huruf L

Dimensi massa dilambangkan dengan huruf M

Dimensi waktu dilambangkan dengan huruf T


Dimensi dari besaran pokok dapat anda lihat jelas lagi pada tabel di bawah ini:


Kegunaan dimensi adalah untuk mengetahui tepat atau tidak tepatnya suatu persamaan tersebut.



Dari dimensi besaran pokok maka anda dapat mencari dimensi besaran turunan (besaran terjabar).

Satuan Besaran Pokok Waktu

Sebagai satuan standar dari besaran pokok waktu adalah detik (sekon). Penentuan satuan waktu dalam detik pada mulanya ditentukan berdasarkan perputaran bumi mengelilingi sumbunya. Bumi perputar 1 kali pada sumbunya memerlukan waktu 24 jam.

24 jam = 1 hari matahari rata-rata

86.400 detik = 1 hari matahari rata-rata

1 detik = (1/86.400) hari matahari

Hasil dari pengukuran yang sangat teliti menunjukkan bahwa perputaran bumi megelilingi sumbunya dari hari ke hari, demikian juda dari tahun ke tahun selalu berubah-ubah sehingga kurang tepat dipakai patokan untuk menentukan satuan standar waktu. Akhirnya pada tahun 1956 didefinisikan detika standar diperbaiki kembali dan telah ditetapkan secara internasional yang besarnya:

1 detik = (1/31.556.925,9747) x 1 tahun tropika pada 31 Desember 1990 pukul 12.00 GMT.

Tetapi pada tahun 1967 detik standar ditetapkan kembali tetapi tidak berdasarkan tahun 1900 melainkan berdasarkan frekuensi getaran atom cesium.

frekuensi (f) getaran atom cesium adalah:

f = 9.192.631.770 Hertz (getaran/detik)


Satuan Besaran Pokok Massa

Massa adalah banyaknya zat yang terkandung pada suatu benda. Satuan massa dalam satuan sistem internasioanl (SI) dinyatakan dengan kilogram (kg). Kilogram standar adalah sebuah massa standar yang terbuat dari sebuah selinder platina-iridium yang aslinya disimpan di Serves dekat Paris.

Pengertian massa kilogram standar itu sama pula dengan 1 liter air murni pada suhu 4^oC (empat derajad Celcius).

Satuan-satuan massa lainnya adalah:

1 ton = 1000 kg = 10^3 kg (sepuluh pangkat tiga kilogram)

1 gram = (1 kg) / (1.000.000) = 10^-6 kg

1 miligram = (1 kg) / (1.000.000) = 10^-6 kg

Di samping pengertian massa kita juga mengenal pengertian berat. Berat adalah gaya tarik bumi yang bekerja pada suatu benda. Massa dengan berat mempunyai pengertian yang berbeda. Massa di mana-mana selalu tetap sedangkan berat selalu berubah-ubah sesuai dengan letak benda di permukaan bumi.

Alat Pengukur Massa

Alat yang digunakan untuk mengukur massa suatu benda digunakan neraca.

Jenis-jenis neraca antara lain:

1. Neraca sama lengan


2. Neraca Ohaus

Mikrometer Sekrup

Mikrometer sekrup digunakan untuk mengukur tebal benda <= 25 mm.
Mencari ketelitian micrometer sekrup:

Pada mulanya micrometer sekrup dikoreksi dengan memutar nonius putar, agar titik nol angka skala utama berimpit dengan titik nol skala nonius putar. Jika nonius putar terbagi menjadi 50 skala, kemudian nonius diputar satu kali (yaitu dari skala 0 kembali ke skala 0 lagi), maka nonius akan maju atau mundur pada skala utama sejauh 0,5 mm.

Jadi: 50 skala nonius putar = 0,5 mm

1 skala nonius putar = (0,5 mm)/(50) = 0,01 mm

0,01 mm ini merupakan ketelitian mikrometer sekrup.

Cara menggunakan mikrometer sekrup

1. Tentutkan titik nol kedua skala apakah berimpit atau tidak.
2. Letakkan benda yang akan diukur di antara kedua penjepit, kemudian nonius diputar agar ujung-ujung penjepit dapat menyentuh benda. Supaya keadaan benda tidak berubah, putar sekrup sampai terdengar bunyi mendetik.


3. sekarang tinggal membaca ukuran benda.

ukuran benda = skala utama + (penunjuk skala nonius putar x ketelitian alat).

misalkan kedudukan nonius seperti pada gambar di atas.

panjang benda OA adlah:

OA = OB + (penunjuk skala nonius x ketelitian alat)
OA = 5 mm + (30 x 0,01 mm)
OA = 5 mm + 0,30 mm
OA = 5,30 mm

OA = 0,530 cm

Jumat, 17 Juni 2011

Alat Pengukur Panjang

Alat yang digunakan untuk mengukur panjang adalah:

Mistar

Mistar yang digunakan untuk mengukur panjang mempunyai ketelitian sampai 0,05 cm (0,5 mm).


>>klik di sini>> untuk lebih jelas!

Jangka sorong

Jangka sorong mempunyai bentuk seperti gambar di bawah ini


>>klik di sini>> untuk ukuran yang lebih besar!

Keterangan:

a = Tangkai berskala tetap (berskala utama), dengan rahang tetap pada ujungnya

b = Rahang tetap

c = Nonius (skala nonius)

d = Rahang geser

e = Rahang belakang

f = Sekrup penahan rahang geser (Untuk menggeser nonius sekrup ditekan)

g = Bagian ujung yang dapat bergerak.

Mencari ketelitian jangka sorong

Ketelitian jangka sorong dapat dicari dengan menggeser nonius, agar titik nol skala nonius berimpit dengan titik nol skala utama. Baca skala terakhir nonius yang berimpit dengan skala utama. Jika nonius terdiri 10 skala sesuai dengan 9 skala utama, maka:

10 skala nonius = 9 skala utama

1 skala nonius = 0,9 skala utama

Karena tiap skala utama = 1 mm, maka selisih antara tiap skala utama dengan skala nonius,

= 1 mm – 0,9 mm

= 0,1 mm (0,1 mm ini merupakan ketelitian jangka sorong).


>>klik di sini>> untuk ukuran yang lebih besar!

Perbandingan kedua skala pada jangka sorong ini adalah 10:9. Ada juga jangka sorong jenis lain yang mempunyai perbandingan skala, 5:4, 20:19, dan 30:29. Ketelitian masing-masing jangka sorong ini berbeda.

Kegunaan jangka sorong

Kegunaan jangka sorong sebagai berikut:

Untuk mengukur panjang benda

Benda diletakkan antara rahang geser dengan rahang tetap, dengan cara menggeser nonius.

Baca skala nonius dan skala utama yang berimpit. Misalnya skala 5 nonius berimpit dengan skala 13 utama (lihat gambar!).


>>klik di sini>> untuk ukuran yang lebih besar!

Panjang benda dapat dicari sebagai berikut:

AC = AB + BC

AC = AB + (BD – CD)

AC = 8 mm + (4 mm – 4x0,9 mm)

AC = 8 mm + (4 mm - 3,6 mm)

AC = 8 mm + 0,4 mm

AC = 8,4 mm

Jadi panjang benda dari pengukuran di atas, yaitu 8,4 mm = 84 cm.

Pengukuran OB dapat juga dicari dengan cara yang lebih sederhana, yaitu:

AC = AB + (CD x ketelitian alat)

AC = 8 mm + (4 x 0,1)

AC = 8,4 mm

Untuk mengukur diameter dalam sebuah silinder

Rahang belakang e dimasukkan ke dalam silinder, nonius digeser sehingga pinggir-pinggir e tetap bersinggungan dengan dinding sebelah dalam silinder.


>>klik di sini>> untuk ukuran yang lebih besar!

Untuk mengukur dalam sebuah lubang

Masukkan bagian ujung g ke dalam sebuah lubang, kemudian nonius digeser sehingga ujung g ini mengenai dasar lubang.


>>klik di sini>> untuk ukuran yang lebih besar!


Penetapan Besaran Pokok






Alat yang digunakan untuk mengukur panjang adalah:



Mistar yang digunakan untuk mengukur panjang mempunyai ketelitian sampai 0,05 cm (0,5 mm).

>>klik di sini>> untuk lebih jelas!



Jangka sorong mempunyai bentuk seperti gambar di bawah ini

>>klik di sini>> untuk ukuran yang lebih besar!

Keterangan:

a = Tangkai berskala tetap (berskala utama), dengan rahang tetap pada ujungnya

b = Rahang tetap

c = Nonius (skala nonius)

d = Rahang geser

e = Rahang belakang

f = Sekrup penahan rahang geser (Untuk menggeser nonius sekrup ditekan)

g = Bagian ujung yang dapat bergerak.




Ketelitian jangka sorong dapat dicari dengan menggeser nonius, agar titik nol skala nonius berimpit dengan titik nol skala utama. Baca skala terakhir nonius yang berimpit dengan skala utama. Jika nonius terdiri 10 skala sesuai dengan 9 skala utama, maka:


10 skala nonius = 9 skala utama

1 skala nonius = 0,9 skala utama


Karena tiap skala utama = 1 mm, maka selisih antara tiap skala utama dengan skala nonius,


= 1 mm – 0,9 mm

= 0,1 mm (0,1 mm ini merupakan ketelitian jangka sorong).

>>klik di sini>> untuk ukuran yang lebih besar!



Perbandingan kedua skala pada jangka sorong ini adalah 10:9. Ada juga jangka sorong jenis lain yang mempunyai perbandingan skala, 5:4, 20:19, dan 30:29. Ketelitian masing-masing jangka sorong ini berbeda.



Kegunaan jangka sorong sebagai berikut:

Untuk mengukur panjang benda

Benda diletakkan antara rahang geser dengan rahang tetap, dengan cara menggeser nonius.


Baca skala nonius dan skala utama yang berimpit. Misalnya skala 5 nonius berimpit dengan skala 13 utama (lihat gambar!).

>>klik di sini>> untuk ukuran yang lebih besar!

Panjang benda dapat dicari sebagai berikut:


AC = AB + BC

AC = AB + (BD – CD)

AC = 8 mm + (4 mm – 4x0,9 mm)

AC = 8 mm + (4 mm - 3,6 mm)

AC = 8 mm + 0,4 mm

AC = 8,4 mm


Jadi panjang benda dari pengukuran di atas, yaitu 8,4 mm = 84 cm.


Pengukuran OB dapat juga dicari dengan cara yang lebih sederhana, yaitu:


AC = AB + (CD x ketelitian alat)

AC = 8 mm + (4 x 0,1)

AC = 8,4 mm



Rahang belakang e dimasukkan ke dalam silinder, nonius digeser sehingga pinggir-pinggir e tetap bersinggungan dengan dinding sebelah dalam silinder.

>>klik di sini>> untuk ukuran yang lebih besar!





Masukkan bagian ujung g ke dalam sebuah lubang, kemudian nonius digeser sehingga ujung g ini mengenai dasar lubang.


>>klik di sini>> untuk ukuran yang lebih besar!



Label

Pembelajaran Fisika

Pembelajaran Fisika

Fase Mengamati (Hubungan Momentum Sudut dengan Momen Inersia)

Fase Mengamati (Hubungan Momentum Sudut dengan Momen Inersia)

Peta Konsep Fluida Dinamis

Peta Konsep Fluida Dinamis

Fase Mengamati (Persamaan Kontinuitas)

Fase Mengamati (Persamaan Kontinuitas)

Kelas Fisika

Kelas Fisika

Jurnal Pembelajaran Fisika

Bandarlampung, 1 Februari 2014

SMA Kebangsaan Lampung Selatan
X MIA 1
Presentasi Tugas Proyek:
Menganalisis pengaruh gerak vertikal wadah berlubang (2 lubang sejajar pada dasarnya) berisi air terhadap tekanan hidrostatis pada dasar wadah tersebut.
Proses Pembelajaran Siswa:
(1) Siswa ditugaskan menyiapkan alat, bahan, dan langkah percobaan sesuai dengan tujuan percobaan sehingga diperoleh kesimpulan pengaruh gerak vertikal terhadap tekanan hidrosatis pada dasar wadah berlubang. (2) Hasil pengamatan siswa berupa gambar dan video yang mampu merepresentasikan tujuan percobaan (membuktikan, menganalisis, dan menyimpulkan data).
Hasil Pembelajaran:
Pembelajaran berjalan sesuai dengan perencanaan pelaksanaan pembelajaran, yaitu; (a) Siswa melaporkan hasil tugas proyek, (b) Guru menilai presentasi siswa, (c)diakhir pembelajaran dilaksanaan kuis untuk mengukur ketercapaian pembelajaran (pengetahuan, keterampilan, sikap) siswa. Namun demikian, 4 siswa belum dapat dilakukan penilaian kinerja (mempresentasikan hasil pengamatan), dikarenakan data 4 siswa tersebut tidak dibawa di kelas. Selain itu, secara umum siswa belum mampu menyimpulkan hasil pengamatan dengan menganalisi prinsip tekanan hidrostatis pada dasar wadah berlubang berisi air.
Kesimpulan yang diharapkan:
1. Ada pengaruh gerak vertikal wadah berlubang berisi air terhadap tekanan hidrostatis.
2. Selama bergerak vertikal, massa wadah berlubang berisi air lenyap.

Sampel Hasil Pembelajaran Siswa

Sampel Data Siswa

Praktikum Azas Black

Praktikum Azas Black

Kelas Olimpiade Fisika SMA

Kelas Olimpiade Fisika SMA

Peta Konsep Kinematika Gerak

Peta Konsep Kinematika Gerak

Kelas Latihan Soal Olimpiade Fisika SMA

Kinematika 1:

Aplikasi GLBB dan Gerak Parabola

Pembahasaan Soal Latihan Olimpiade Fisika